Jurnal

EFEKTIVITAS PELATIHAN PENGEMBANGAN DIRI MELALUI LOGOANALISIS UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN REMAJA

(Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa-siswi Kelas XI SMA Negeri 4 Semarang)

Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Teknik Penulisan Skripsi

logo-undip

Oleh:

MOCH. ICHWAN

M2A 005 052

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2008

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada zaman atau era seperti ini dibutuhkan remaja yang tangguh dan mempunyai kemandirian tinggi dalam rangka mengarungi kehidupannya. Remaja sebagai calon generasi penerus bangsa diharapkan untuk ikut serta mengisi pembangunan. Remaja yang dapat ikut serta mengisi pembangunan adalah remaja yang menguasai lingkungan, bukan remaja yang terbawa arus lingkungan. Untuk itu, remaja perlu ditingkatkan kualitas kepribadiannya agar dapat ikut aktif mengisi pembangunan. Salah satu unsur kepribadian yang penting adalah kemandirian.

Individu yang memasuki masa remaja merupakan individu yang terkategori hidup dalam masa transisi, yakni perpindahan dari masa anak menuju masa dewasa. Masa ini, banyak ahli psikologi seperti Hurlock (1997, h. 207) memberikan label bagi remaja sebagai fase penuh konflik, fase penuh penentangan, dan sebagai fase pencarian jati diri.

teinberg (2002, h. 360-361) menyatakan bagi kaum remaja, menegakkan kemandirian adalah sama pentingnya seperti dalam artian usaha untuk menegakkan identitas. Menjadi pribadi yang mandiri, yakni pribadi yang menguasai dan mengatur diri sendiri, merupakan salah satu tugas perkembangan yang paling mendasar dalam tahun-tahun masa remaja. Pencapaian kemandiran bagi remaja merupakan sesuatu hal yang tidak mudah. Sebab, pada masa remaja terjadi pergerakan perkembangan psikososial dari arah lingkungan keluarga menuju lingkungan luar keluarga. Mereka berusaha melakukan pelepasan-pelepasan atas keterikatan yang selama ini dialami pada masa kanak-kanak. Seperti yang diketahui bersama bahwa pada masa kanak-kanak segalanya serba diatur dan ditentukan oleh orang tua.

Menurut Rice (dalam Aspin, 2007, h. 11), pemutusan ikatan infantil yang telah berkembang dan dinikmati dengan penuh rasa nyaman selama masa kanak-kanak seringkali menimbulkan reaksi yang sulit dipahami (misunderstood) bagi kedua belah pihak baik remaja maupun orang tua. Remaja sering tidak mampu memutuskan simpul-simpul ikatan emosional kanak-kanaknya dengan orang tua secara logis dan objektif. Thornbug (dalam Aspin, 2007, h. 13) mengungkapkan bahwa dalam usaha itu mereka kadang-kadang harus menentang, berdebat, bertarung pendapat dan mengkritik dengan pedas sikap-sikap orang tua. Meskipun hal ini sulit dilakukan namun dalam upaya pencapaian kemandirian yang optimal terhadap diri remaja maka upaya tersebut harus ditempuh.

Fenomena ini menarik untuk dicermati, sebab perilaku anak remaja tersebut bila ditinjau dari perspektif psikologis merupakan upaya pelepasan dirinya dari keterikatan-keterikan orang tua yang dirasa terlalu membelenggu, ia berusaha mandiri secara emosi, dan tidak lagi menjadikan orang tua sebagai satu-satunya sandaran dalam pengambilan keputusan. Ia memutuskan sesuatu atas dasar kebutuhan dan kemampuan pribadi, walaupun pada suatu saat masih mempertimbangkan kepentingan dan harapan orang tua. Pada sisi lain orang tua sebagai orang yang merasa menjadi panutan keluarga, mereka harus dihormati, dipatuhi dan dituruti apapun yang dikatakan dan dikehendaki. Menurut orang tua, hal tersebut dilakukan agar anak-anaknya kelak menjadi orang yang berguna di masa depannya.

Kemandirian dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus sejak dini. Latihan tersebut dapat berupa pemberian tugas-tugas tanpa bantuan yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Pelatihan pengembangan diri bisa dijadikan alternatif cara untuk mengembangkan kemandirian remaja.

Sesuai dengan karakteristik remaja, yang menurut pendapat Erikson (dalam Fuhrman, 1990, h. 29) bahwa masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri, maka cukup tepat kiranya langkah untuk membantu remaja mencapai kemandiriannya dengan cara membantunya menemukan identitas diri, tujuan hidup, dan makna hidup. Maka akan sangat tepat, bila pelatihan pegembangan diri berbasis logoterapi diterapkan.

Berdasarkan teori tersebut, maka dapat diasumsikan bahwa kemandirian remaja dapat tercapai apabila remaja mampu mengambil sikap dan langkah yang tepat dalam rangkaian proses pembentukan identitas dirinya. Proses yang benar akan membawa pada hasil yang maksimal. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah dengan menumbuhkan kesadaran remaja untuk menemukan makna hidup (the meaning of life). Makna hidup dapat ditemukan dalam berbagai bentuk pengalaman hidup yang dialami. Makna hidup akan menumbuhkan keinginan remaja untuk hidup bermakna sebagai tujuan hidupnya (the will to meaning). Selanjutnya keinginan untuk hidup bermakna tersebut akan mendorong remaja pada tindakan-tindakan yang positif untuk meraih taraf kehidupan bermakna yang didambakannya (the meaningfull life) yakni mencapai kemandirian. Tujuan hidup yang jelas akan memberi motivasi bagi remaja untuk memenuhinya. Begitu makna hidup ditemukan dan tujuan hidup telah ditetapkan, maka seorang remaja akan merasa terpanggil untuk memenuhinya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pun menjadi lebih terarah. Inilah konsep logoterapi dalam menemukan kebermaknaan hidup seseorang yang penerapannya pada remaja dapat dilakukan melalui logoanalisis.

.

B. Rumusan Masalah

Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah seberapa efektif pengaruh pemberian pelatihan pengembangan diri melalui logoanalisis mampu meningkatkan kemandirian remaja pada siswa-siswi kelas XI SMA Negeri 4 Semarang?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan pengembangan diri melalui logonalisis untuk meningkatkan kemandirian remaja pada siswa-siswi kelas XI SMA Negeri 4 Semarang.


D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat teoretis

Memberikan sumbangan pengetahuan bagi ilmu psikologi, khususnya bidang psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, dan pengembangan penerapan konsep logoterapi yang berhubungan dengan pelatihan pengembangan diri dan kemandiran remaja.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi:

a. Peneliti Lain

Untuk tambahan wacana tentang penerapan konsep logoterapi yang berhubungan dengan pelatihan pengembangan diri dan kemandiran remaja.

b. Subjek Penelitian

Memberikan informasi, dan pengetahuan mengenai pentingnya kemandirian remaja bagi pencapaian tugas perkembangan, pengembangan diri pribadi, dan memberikan ketrampilan upaya meraih kemandirian itu.

c. Sekolah

Dapat dijadikan rekomendasi upaya meningkatkan kemandirian siswa, yakni dengan memberikan pelatihan pengembangan diri melalui logoanalisis. Harapannya, ini sesuai dengan visi dan misi kurikulum pendidikan untuk mencetak siswa/ remaja yang mandiri.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kemandirian Remaja

1. Pengertian Kemandirian

Para ahli berpandangan bahwa pada usia remaja, seiring dengan berlangsung dan memuncaknya proses perubahan fisik, kognisi, afeksi, sosial, moral dan mulai matangnya pribadi dalam memasuki dewasa awal, maka tuntutan terhadap separasi (separation) atau self-detachment dari orang tua/keluarga berlangsung sedemikian tingginya sejalan dengan tingginya kebutuhan akan kemandirian (autonomy) dan pengaturan diri sendiri (self directed) (Aspin, 2007, h. 9). Kata autonomy, dalam kamus psikologi (otonomi) diartikan sebagai keadaan pengaturan diri, atau kebebasan individu manusia untuk memilih, menguasai dan menentukan dirinya sendiri (Chaplin, 2001, h. 48). Selanjutnya, bila kita menilik kata mandiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang lain, dan kata kemandirian sebagai kata benda dari mandiri diartikan sebagai hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Lebih lanjut Hanna Widjaja (dalam Aspin, 2007, h. 21) memberikan penjelasan bahwa kemandirian menunjuk pada adanya kepercayaan akan kemampuan diri untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tanpa bantuan khusus dari orang lain, keengganan untuk dikontrol orang lain, dapat melakukan sendiri kegiatan-kegiatan dan menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang dihadapi. Kemandirian merupakan salah satu ciri kematangan yang memungkinkan anak berfungsi otonom dan berusaha ke arah prestasi pribadi dan tercapainya suatu tujuan. Beradasarkan beberapa definisi diatas dapat diambil suatu benang merah bahwa secara substansial arti mandiri/ kemandirian dan otonom/ autonomy mempunyai kata kunci yang sama yakni terlepas dari ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tanggung jawab pribadi, serta mampu melaksanakan sesuatunya dengan dirinya sendiri.

Kemandirian merupakan suatu kekuatan internal individu yang diperoleh melalui proses individuasi, yaitu proses realisasi kedirian dan proses menuju kesempurnaan. Diri adalah inti dari kepribadian dan merupakan titik pusat yang menyelaraskan dan mengoordinasikan seluruh aspek kepribadian. Menurut Yasin Setiyawan kemandirian adalah keadaan seseorang yang dapat menentukan diri sendiri dimana dapat dinyatakan dalam tindakan atau perilaku seseorang dan dapat dinilai.

Steinberg mengemukakan pendapat yang didasari oleh teori Ann Freud, bahwa kemandirian adalah permasalahan sepanjang rentang kehidupan, tetapi perkembangan kemandirian sangat dipengaruhi oleh perubahan fisik yang dapat memacu perubahan emosional, perubahan kognitif yang memberikan pemikiran logis tentang cara berpikir yang mendasari tingkah laku dan juga perubahan nilai dalam peran sosial serta aktivitas remaja pada periode ini (Aspin, 2007, h. 14).

Berangkat dari definisi tersebut di atas, maka dapatlah diambil pengertian kemandirian adalah keadaan seseorang yang dapat berdiri sendiri yang tumbuh dan berkembang karena disiplin dan komitmen sehingga dapat menentukan diri sendiri yang dinyatakan dalam tindakan dan perilaku yang dapat dinilai.

2. Tingkatan dan Karakteristik Kemandirian

Mohammad Ali dan Mohammad Asrori (2008, h. 136) mengutip pendapat Lovinger tentang tingkatan kemandirian beserta ciri-cirinya sebagai berikut:

a. Tingkatan pertama adalah tingkat impulsif dan melindungi diri.

Ciri-ciri tingkatan ini adalah: Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari interaksinya dengan orang lain. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. Berpikir tidak logis dan tertegun pada cara berpikir tertentu. Cenderung melihat kehidupan sebagai zero-sum game. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain serta lingkungannya.

b. Tingkatan kedua adalah tingkat komformistik.

Ciri-ciri tingkatan ini adalah: Peduli terhadap penampilan diri dan penerimaan sosial. Cenderung berpikir stereotype dan klise.
Peduli akan konformitas terhadap aturan eksternal. Bertindak dengan motif yang dangkal untuk memperoleh pujian. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi dan kurangnya introspeksi. Perbedaan kelompok didasarkan atas ciri-ciri eksternal. Takut tidak diterima kelompok. Tidak sensitif terhadap keindividualan. Merasa berdosa jika melanggar aturan.

c. Tingkatan ketiga adalah tingkat sadar diri.

Ciri-ciri tingkatan ini adalah: Mampu berpikir alternatif dan memikirkan cara hidup. Peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. Melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. Menekankan pada pentingnya pemecahan masalah. Penyesuaian terhadap situasi dan peranan.

d. Tingkatan keempat adalah tingkat saksama (conscientious).

Ciri-ciri tingkatan ini adalah: Bertindak atas dasar nilai-nilai internal. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan.
Mampu melihat keragaman emosi, motif, dan perspektif diri sendiri maupun orang lain. Sadar akan tanggung jawab dan mampu melakukan kritik dan penilaian diri. Peduli akan hubungan mutualistik. Memiliki tujuan jangka panjang. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. Berpikir lebih kompleks dan atas dasar pola analitis.

e. Tingkatan kelima adalah tingkat individualistis

Ciri-ciri tingkatan ini adalah: Peningkatan kesadaran individualitas. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. Mengenal eksistensi perbedaan individual. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. Membedakan kehidupan internal dengan kehidupan luar dirinya. Mengenal kompleksitas diri. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial.

f. Tingkatan keenam adalah tingkat mandiri.

Ciri-ciri tingkatan ini adalah: Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. Cenderung bersikap realistik dan objektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. Peduli terhadap pemahaman abstrak, seperti keadilan sosial. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. Toleran terhadap ambiguitas. Peduli terhadap pemenuhan diri. Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. Responsif terhadap kemandirian orang lain. Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. Mampu mengekspresikan perasaan denga penuh keyakinan dan keceriaan.

3. Jenis Kemandirian

Maslow (dalam Ali, 2008, h. 132) membedakan kemandirian menjadi dua, yaitu: kemandirian aman (secure autonomy), yaitu kekuatan untuk menumbuhkan cinta kasih pada dunia, kehidupan, dan orang lain, sadar akan tanggung jawab bersama, dan tumbuh rasa percaya terhadap kehidupan. Kekuatan ini digunakan untuk mencintai kehidupan dan membantu orang lain. Kemandirian tidak aman (insecure autonomy), yaitu kekuatan kepribadian yang dinyatakan dalam perilaku menentang dunia. Maslow menyebut kondisi seperti ini sebagai selfish autonomy atau kemandirian mementingkan diri sendiri.

Secara psikososial kemandirian tersusun dari tiga bagian pokok yaitu : 1). Otonomi emosi (emotional autonomy) – aspek kemandirian yang berhubungan dengan perubahan kedekatan/keterikatan hubungan emosional individu, terutama sekali dengan orang tua. 2). Otonomi bertindak (behavioral autonomy) – aspek kemampuan untuk membuat keputusan secara bebas dan menindaklanjutinya. 3). Otonomi nilai (value autonomy) – aspek kebebasan untuk memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah, yang wajib dan yang hak, apa yang penting dan apa yang tidak penting.

Otonomi emosi (kemandirian secara emosi) menunjuk kepada pengertian yang dikembangkan remaja mengenai individuasi dan melepaskan diri atas ketergantungan mereka dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar dari orang tua mereka. Hubungan antara anak dan orang tua berubah dengan sangat cepat, terutama sekali setelah anak memasuki usia remaja. Sejalan dengan semakin dengan mandirinya anak dalam mengurus dirinya sendiri pada pertengahan masa kanak-kanak, maka waktu yang diluangkan orang tua terhadap anak semakin berkurang dengan sangat tajam. Pergerakan perkembangan dalam interaksi sosial pada masa remaja bergerak dari arah keluarga menuju luar keluarga. Artinya bahwa bila selama ini remaja ketika masih dalam masa kanak-kanak mereka berkutat dalam keluarga atau keluarga menjadi lingkungan inti dalam kehidupan sehari-hari, maka pada masa remaja hal ini mulai terkurangi seiring dengan perluasan lingkungan remaja yang dialaminya. Remaja akan berusaha melepaskan ikatannya dengan orang tuanya. Ia berusaha menjadi dirinya sendiri, ia berusaha mencari model idealisasinya yang sesuai dengan keinginannya. Pada fase ini ketergantungan emosional remaja terhadap orang tuanya semakin berkurang, menyusul semakin memuncaknya kemandirian emosional mereka, meskipun ikatan emosional anak terhadap orang tua tidak mungkin dan tidak serta merta dapat dipatahkan secara sempurna (Aspin, 2008, h. 12).

Remaja yang mandiri secara emosional mempunyai indikator-indikator dalam beberapa hal seperti:1) Remaja yang mandiri tidak serta merta lari kepada orang tua ketika mereka dirundung kesedihan, kekecewaan, kekhawatiran atau membutuhkan bantuan. 2) Remaja tidak lagi memandang orang tua sebagai orang yang mengetahui segala-galanya atau menguasai segala-galanya. 3). Remaja sering memiliki energi emosional yang besar dalam rangka menyelesaikan hubungan-hubungan di luar kelurga dan dalam kenyataannya mereka merasa lebih dekat dengan teman-teman daripada orang tua. 4). Remaja mampu memandang dan berinteraksi dengan orang tua sebagai orang pada umumnya – bukan semata-mata sebagai orang tua.

Adapun otonomi berbuat/ bertindak (behavioral autonomy) menunjuk kepada kamampuan seseorang melakukan aktivitas, sebagai manifestasi dari berfungsinya kebebasan dengan jelas, menyangkut peraturan-peraturan yang wajar mengenai perilaku dan pengambilan keputusan dari seseorang. Mandiri dalam perilaku berarti bebas untuk bertindak/berbuat sendiri tanpa terlalu bergantung pada bimbingan/ pertolongan orang lain. Kemandirian berbuat, khususnya kemampuan mandiri secara fisik sebenarnya sudah dimulai sejak usia anak dan meningkat dengan sangat tajam sepanjang usia remaja.

Peningkatan ini bahkan lebih dramatis daripada peningkatan kemandirian emosional. Secara psikologis remaja ingin mendapatkan kemandirian perilaku ini secara perlahan-lahan. Hal ini dimulai dari pendistribusian wewenang yang diberikan oleh orang tuanya terhadap anaknya. Pemberian kepercayaan secara sedikit demi sedikit terhadap anak akan memberikan situasi yang kondusif terhadap peningkatan kemandirian perilaku. Namun kadang-kadang pemberian kewenangan atau kepercayaan yang berlebihan justru dianggap sebagai suatu penolakan. Ia ingin memikul tangungjawab, mempunyai kebebasan untuk beradu pendapat, ingin menggunakan kemampuannya sendiri dalam menyelesaikan masalah, namun ia tidak menghendaki kebebasan yang liberal atau kebebasan yang penuh.

Kemandirian perilaku pada remaja ditandai dengan beberapa indikator yakni 1) kemampuan untuk membuat keputusan sendiri dan mengetahui dengan pasti kapan seharusnya meminta/mempertimbangkan nasehat orang lain selama hal itu sesuai, 2) mampu mempertimbangkan bagian-bagian alternatif dari tindakan yang dilakukan berdasarkan penilaian sendiri dan saran-saran orang lain, 3) mencapai suatu keputusan yang bebas tentang bagaimana harus bertindak/melaksanakan keputusan dengan penuh percaya diri.

Kemandirian yang ketiga adalah kemandirian/ otonomi nilai. Kemandirian nilai menunjuk kepada suatu pengertian mengenai kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan-keputusan dan menetapkan pilihan yang lebih berpegang atas dasar prinsip-prinsip individual yang dimilikinya, daripada mengambil prinsip-prinsip dari orang lain. Diantara ketiga komponen kemandirian, kemandirian nilai merupakan proses yang paling kompleks, tidak jelas bagaimana proses berlangsung dan pencapaiannya, terjadi melalui proses internalisasi yang pada lazimnya tidak disadari, dan umumnya berkembang paling akhir dan paling sulit dicapai secara sempurna dibanding kedua tipe kemandirian lainnya. Kemandirian nilai menjadi lebih berkembang setelah sebagian besar keputusan menyangkut cita-cita pendidikan, rencana pekerjaan, dan perkawinan dialami dan dicapai. Pada banyak kasus sistem nilai remaja dan orang tua sedemikian sama sehingga nilai-nilai orang tua akan dilestarikan pada masa dewasa.

Perkembangan kemandirian nilai membawa perubahan-perubahan pada konsepsi-konsepsi remaja tentang moral, politik, ideologi dan persoalan-persoalan agama. Perkembangan kemandirian nilai sepanjang remaja ditandai oleh : 1) cara remaja dalam memikirkan segala sesuatu menjadi semakin abstrak, 2) keyakinan-keyakinan remaja menjadi semakin bertambah mengakar pada prinsip-prinsip umum yang memiliki beberapa basis ideologis, 3) keyakinan-keyakinan remaja menjadi semakin bertambah tinggi dalam nilai-nilai mereka sendiri dan bukan hanya dalam suatu sistem nilai yang ditanamkan oleh orang tua atau figur pemegang kekuasaan lainnya.

Menurut Steinberg (dalam Aspin, 2007, h. 14) remaja yang memperoleh kemandirian adalah remaja yang dapat memiliki kemampuan untuk mengatur diri sendiri secara bertanggung jawab, meskipun tidak ada pengawasan dari orang tua ataupun guru. Kondisi demikian menyebabkan remaja memiliki peran baru dan mengambil tanggung jawab baru, sehingga hal ini akan menempatkan remaja untuk menjadi tidak tergantung pada orang tua untuk memperoleh kemandirian secara emosional. Sehingga masalah kemandirian emosional secara spesifik menuntut suatu kesiapan individu baik secara fisik maupun emosional untuk mengatur, mengurus, dan melakukan aktivitas atas tanggung jawabnya sendiri tanpa banyak tergantung pada orang lain. Kurangnya pengalaman remaja dalam menghadapi berbagai masalahnya, maka remaja akan mengalami kesulitan dalam menghadapi berbagai masalahnya untuk dapat memperoleh kemandirian emosional.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Remaja

Al-Mighwar (2006, h. 234) berpendapat bahwa kemandirian bukanlah semata-mata merupakan pembawaan yang melekat pada diri individu sejak lahir. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh berbagai stimulasi yang datang dari lingkungannya, selain potensi yang telah dimiliki sejak lahir sebagai keturunan dari orang tuanya. Ada sejumlah faktor yang sering disebut sebagai korelat bagi perkembangan kemandirian, yaitu sebagai berikut:

a. Gen atau keturunan orang tua.

Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak yang memiliki kemandirian juga. Namun faktor keturunan masih menjadi perdebatan karena ada yang berpendapat bahwa bukan sifat kemandirian orang tua itu menurun kepada anaknya, melainkan sifat orang tuanya muncul berdasarkan cara orang tua mendidik anaknya.

b. Pola asuh orang tua.

Orang tua yang terlalu banyak melarang kepada anak tanpa disertai dengan penjelasan yang rasional akan menghambat perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya, orang tua yang menciptakan suasana aman dalam interaksi keluarganya akan dapat mendorong kelancaran perkembangan anak.

c. Sistem pendidikan di sekolah.

Proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokratisasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat kemandirian anak. Sebaliknya proses pendidikan yang lebih menekankan pentingnya penghargaan terhadap potensi anak, pemberian reward, dan penciptaan kompetisi positif akan memperlancar perkembangan kemandirian anak.

d. Sistem kehidupan di masyarakat.

Sistem yang terlalu menekankan pentingnya hierarki struktur sosial, merasa kurang aman atau mencekam serta kurang menghargai manifestasi potensi remaja dalam kegiatan produktif dapat menghambat kelancaran perkembangan kemandirian remaja. Sebaliknya, lingkungan masyarakat yang aman, menghargai ekspresi potensi remaja dalam bentuk berbagai kegiatan, dan tidak terlalu hierarkis akan merangsang dan mendorong perkembangan kemandirian remaja.

5. Pengembangan Kemandirian Remaja

Aspin (2007, h. 22) berasumsi bahwa kemandirian sebagai aspek psikologis berkembang tidak dalam kevakuman atau diturunkan oleh orang tuanya maka intervensi positif melalui ikhtiar pengembangan atau pendidikan sangat diperlukan bagi kelancaran perkembangan kemandirian remaja. Sejumlah intervensi dapat dilakukan sebagai usaha pengembangan kemandirian, antara lain sebagai berikut (Al-Mighwar, 2006, h. 235):

a. Penciptaan partisipasi dan keterlibatan remaja dalam keluarga.

Diwujudkan dalam bentuk: saling menghargai antar anggota keluarga. Keterlibatan dalam memecahkan masalah remaja atau keluarga.

b. Penciptaan keterbukaan.

Diwujudkan dalam bentuk: toleransi terhadap perbedaan pendapat dan keterbukaan terhadap minat remaja. Kehadiran dan keakraban hubungan dengan remaja. Memberikan alasan terhadap keputusan yang diambil bagi remaja. Mengembangkan komitmen terhadap tugas remaja.

c. Penciptaan kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungan.

Diwujudkan dalam bentuk: mendorong rasa ingin tahu remaja dan jaminan rasa aman dan kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungan. Adanya aturan tetapi tidak cenderung mengancam apabila ditaati.

d. Penerimaan positif tanpa syarat.

Diwujudkan dalam bentuk: menerima apapun kelebihan maupun kekurangan yang ada pada diri remaja dan tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainnya. Menghargai ekspresi potensi remaja dalam bentuk kegiatan produktif apapun meskipun sebenarnya hasilnya kurang memuaskan.

e. Empati terhadap remaja.

Diwujudkan dalam bentuk: memahami dan menghayati pikiran dan perasaan remaja serta tidak mudah mencela karya remaja betapapun kurang bagus karyanya itu. Melihat berbagai persoalan remaja dengan menggunakan perspektif atau sudut pandang remaja.

f. Penciptaan kehangatan hubungan dengan remaja.

Diwujudkan dalam bentuk: interaksi secara akrab tetapi tetap saling menghargai. Menambah frekuensi interaksi dan tidak bersikap dingin terhadap remaja. Membangun suasana humor dan komunikasi ringan dengannya.

B. Pelatihan Logoanalisis

1. Landasan Logoterapi

Menurut Frankl (2006, h. 109) logoterapi berasal dari kata logos berasal dari bahasa Yunani yang berarti makna. Logoterapi percaya bahwa perjuangan untuk menemukan makna hidup dalam hidup seseorang merupakan motivator utama orang tersebut. Logoterapi berusaha membuat klien menyadari secara tanggungjawab dirinya dan memberinya kesempatan untuk memilih, untuk apa, atau kepada siapa dia merasa bertanggungjawab. Logoterapi tidak menggurui atau berkotbah melainkan klien sendiri yang harus memutuskan apakah tugas hidupnya bertanggung jawab terhadap masyarakat, atau terhadap hati nuraninya sendiri.

Menurut Frankl (dalam Bastaman, 2007, h. 41 – 46), logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia yang berlandaskan tiga pilar filosofis yang satu dengan lainya erat hubunganya dan saling menunjang yaitu:

a. Kebebasan berkehendak (Freedom of Will)

Dalam pandangan logoterapi manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini bukanlah kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggungjawab. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan dari (freedom from) kondisi-kondisi biologis, psikologis dan sosiokultural tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil sikap (freedom to take a stand) atas kondisi-kondisi tersebut. Kelebihan manusia yang lain adalah kemampuan untuk mengambil jarak (to detach) terhadap kondisi di luar dirinya, bahkan manusia juga mempunyai kemampuan-kemampuan mengambil jarak terhadap dirinya sendiri (self detachment). Kemampuan-kemampuan inilah yang kemudian membuat manusia disebut sebagai “the self deteming being” yang berarti manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.

b. Kehendak Hidup Bermakna (The Will to Meaning)

Menurut Frankl, motivasi hidup manusia yang utama adalah mencari makna. Ini berbeda denga psikoanalisa yang memandang manusia adalah pencari kesenangan atau juga pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi bahwa kesenangan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna itu. Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl bersifat menarik (to pull) dan menawari (to offer) bukannya mendorong (to push). Karena sifatnya menarik itu maka individu termotivasi untuk memenuhinya agar ia menjadi individu yang bermakna dengan berbagai kegiatan yang sarat dengan makna.

c. Makna Hidup (The Meaning of Life)

Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Untuk tujuan praktis makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara manusia satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting bukan makna hidup secara umum, melainkan makna khusus dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu. Setiap manusia memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya.

2. Logoanalisis Sebagai Metode Pengembangan Diri

Mengenali diri adalah perbuatan yang khas manusia karena hanya manusia yang memiliki kemampuan menyadari keadaaan diri (antara lain bakat, kemampuan, sifat, cita-cita) serta menilai sejauh mana hal itu sesuai dengan citra diri yang diidamkannya. Dalam tataran psikologi, pengenalan diri berupa upaya untuk memperluas dan memperdalam kesadaran atas berbagai kecenderungan serta kekhususan diri sendiri dan lingkungannya, seperti kemampuan, bakat, sikap, sufat, minat, motivasi, pemikiran, perasaan, penyesuaian diri, dukungan dan hambatan sosial, dan pola perilaku lainnya, baik yang sudah direalisasikan maupun yang masih merupakan potensi. Fenomena pengenalan diri sangat penting dalam upaya pengembangan pribadi, artinya tak mungkin terjadi proses pengembangan pribadi tanpa didahului mengenali keunggulan dan kelemahan diri sendiri. Pengembangan pribadi adalah usaha terencana untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang gunanya untuk meraih kehidupan yang lebih baik lagi dalam mewujudkan citra diri yang diidam-idamkan (Bastaman, 2007, h. 149-150).

James C. Crumbaugh (dalam Bastaman, 2007, h. 152), salah seorang pengikut Viktor Frankl di Amerika Serikat, secara kreatif mengembangkan sebuah metode pelatihan pengembangan pribadi yang dinamakan logoanalisis (logoanalysis). Logoanalisis merupakan penerapan logoterapi yang berupaya menggali makna hidup melalui analisis pengalaman-pengalaman pribadi dan sosial untuk memahami dari sudut pandang baru hingga benar-benar ditemukan arti dan tujuan hidup yang didambakan (Bastaman, 1996, h. 49). Logoanalisis adalah usaha untuk membantu seseorang menemukan dan lebih menyadari makna dan tujuan hidupnya. Caranya dengan menggali dan mempelajari pengalaman-pengalaman hidup sendiri, khususnya pengalaman yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan berkarya, penghayatan-penghayatannya atas berbagai peristiwa yang mengesankan, dan sikap-sikapnya menghadapi keadaan-keadaan yang tak terhindarkan lagi. Crumbaugh merumuskan logoanalisis sebagai proses menganalisis berbagai pengalaman sendiri yang selama ini terabaikan untuk memperluasnya dan memperoleh sumber-sumber makna dan tujuan hidup yang baru.

Logoanalisis tidak terutama ditujukan untuk mereka yang sedang mengalami masalah emosional berat (noogenic neurosis) atau merasa hidupnya hampa tak berarti (existential vacuum), tetapi ditujukan pada mereka yang sehat dan memiliki kehidupan baik dan ingin menigkatkan kesadaran atas makna dan tujuan hidup yang lebih jelas serta mendambakan kehidupan yang lebih bermakna baru (Bastaman, 2007, h. 153).

Untuk menemukan makna hidup bagi setiap orang yang ingin mengembangkan kehidupan yang bermakna, logoanalisis menerapkan metode-metode: self evaluation, Action as if, establishing an encounter (personal and spiritual), dan searching for meaningful values. Keempat metode ini merupakan jabaran dari upaya memperluas kesadaran diri (expanding conscious awareness) dan merangsang imajinasi kreatif (stimulating creative imagination) yang merupakan dua ragam pendekatan utama logoanalisis (Bastaman, 2007, h. 153).

C. Hubungan antara Pelatihan Logoanalisis dengan Kemandirian Remaja

Memperoleh kemandirian merupakan suatu tugas perkembangan bagi remaja. Pencapaian kemandirian menunjuk pada suatu proses yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Selain pola asuh orang tua dan beberapa faktor yang lain, sistem pendidikan di sekolah juga cukup menentukan dalam pembentukan kemandiran remaja (siswa). Saat ini visi kurikulum pendidikan nasional mendukung upaya untuk mewujudkan peserta didik yang mandiri dan bertanggung jawab dalam mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi dan perkembangannya. Dalam tataran praktis, pemberian pelatihan pengembangan diri pada remaja ditempuh sebagai salah satu upaya untuk merealisasikan visi itu.

Kemandirian dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus sejak dini. Latihan tersebut dapat berupa pelatihan pengembangan diri dan atau pemberian tugas-tugas tanpa bantuan yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Selain itu, upaya untuk menumbuhkembangkan kemandirian dapat dilakukan dengan penciptaan partisipasi dan keterlibatan remaja dalam keluarga, penciptaan keterbukaan, penciptaan kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungan, penerimaan positif tanpa syarat, empati terhadap remaja, dan penciptaan kehangatan hubungan dengan remaja. Salah satu bentuk pelatihan pengembangan diri yang seirama dengan upaya itu adalah pelatihan logoanalisis.

Logoanalisis merupakan salah satu bentuk pelatihan pengembangan diri yang didasari oleh konsep logoterapi. Logoanalisis merupakan penerapan logoterapi yang berupaya menggali makna hidup melalui analisis pengalaman-pengalaman pribadi dan sosial untuk memahami dari sudut pandang baru hingga benar-benar ditemukan arti dan tujuan hidup yang didambakan. Ini sesuai dengan kondisi remaja yang sedang membentuk identitas dirinya beserta tujuan-tujuan hidupnya di masa depan.

Dua pendekatan utama yang digunakan logoanalisis, yakni expanding conscious awareness dan stimulating creative imagination. Expanding conscious awareness merupakan usaha untuk secara sengaja menyadari diri sendiri, menggali pengalaman-pengalaman orang lain serta memahami kondisi lingkungan dan segala yang terjadi di sekelilingnya secara lebih mendalam dan rinci, termasuk memahami arti aspek-aspek dari problem yang sedang dihadapi. Melalui upaya tersebut seorang remaja dituntut untuk mau berpikir tentang apa yang terjadi pada diri sendiri, orang lain, dan sekitarnya melalui telaah mendalam. Pemikiran itu akan membimbing ramaja pada kemandirian dan kedewasaan berpikir dalam menghadapi realitas yang ada.

Stimulating creative imagination merupakan pemanfaatan kemampuan kreatif yang secara potensial ada pada setiap individu untuk meninjau kembali dari sudut pandang yang baru atas kondisi pribadi dan pengalaman hidup yang telah dialami. Upaya tersebut akan membimbing remaja pada aktivitas berpikir dalam menemukan hikmah atau makna dari setiap peristiwa yang dialami.

Penerapan kedua metode tersebut (expanding conscious awareness dan stimulating creative imagination) dalam kehidupan remaja diharapkan mampu membimbing remaja dalam memahami kehidupannya secara menyeluruh dan mampu menemukan dan menentukan makna dan tujuan-tujuan hidup yang didambakannya. Penemuan makna dan tujuan hidup yang jelas akan mampu membimbing remaja pada langkah-langkah yang positif dalam mengatasi krisis identitas diri yang sedang dialami dan mencapai kemandirian yang diharapkan.

D. Hipotesis

Ada perbedaan skor kemandirian remaja pada kelompok eksperimen antara sebelum dan sesudah perlakuan. Skor kemandirian kelompok eksperimen sesudah perlakuan lebih tinggi daripada sebelum perlakuan.

Ada perbedaan skor kemandirian remaja antara kelompok eksperimen yang diberi perlakuan pelatihan pengembangan diri melalui logoanalisis dengan kelompok kontrol yang tidak mendapat perlakuan. Skor kemandirian kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel diartikan sebagai suatu konsep yang mempunyai variasi atau keragaman.Variabel adalah segala sesuatu yang bervariasi (Winarsunu, 2004, h.4).

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel tergantung : Kemandirian Remaja

2. Variabel bebas : Pelatihan Logoanalisis

B. Definisi Operasional

Konsep teoretik dalam suatu penelitian harus diterjemahkan dalam bentuk operasionalnya dengan tujuan untuk menjadikan variabel penelitian bersifat spesifik (tidak memiliki interpretasi ganda) dan terukur.

Definisi operasional masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Kemandirian Remaja

Secara operasional, kemandirian remaja definisikan sebagai kebebasan, kesiapan dan kemampuan remaja sebagai individu baik secara fisik maupun emosi untuk mengatur, menguasai, dan melakukan aktivitas hidupnya atas tanggungjawab sendiri tanpa banyak tergantung pada orang lain, khususnya orang tua. Tingkat kemandirian remaja dalam hal ini diartikan sebagai tingkat kebebasan, kesiapan dan kemampuan yang dimiliki remaja secara mandiri dalam mengatur, mengurus, dan menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri; dan tingkat kemampuan remaja untuk mengambil keputusan serta melaksanakannya melalui tindakkan nyata dalam menyelesaikan tugas dan masalah-masalah hidupnya atas tanggung jawab sendiri tanpa banyak bantuan atau pengawasan orang dewasa lain, terutama orang tuanya.

2. Pelatihan Logoanalisis

Logoanalisis adalah usaha untuk membantu seseorang menemukan dan lebih menyadari makna dan tujuan hidupnya. Caranya dengan menggali dan mempelajari pengalaman-pengalaman hidup sendiri, khususnya pengalaman yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan berkarya, penghayatan-penghayatannya atas berbagai peristiwa yang mengesankan, dan sikap-sikapnya menghadapi keadaan-keadaan yang tak terhindarkan lagi.

C. Populasi dan Pengambilan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah sejumlah individu yang paling sedikit mempunyai satu ciri yang sama (Hadi, 1994, h.70). Populasi dalam suatu penelitian merupakan keseluruhan individu yang akan dikenai generalisasi dari hasil kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas XI SMA Negeri 4 Semarang yang memiliki kriteria sebagai berikut:

a. Remaja pertengahan, berusia 15-18 tahun

b. Mempunyai orangtua lengkap

c. Tinggal bersama orangtua

d. Belum pernah mengikuti pelatihan pengembangan diri

2. Metode pengambilan sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2004, h.56). Dalam menentukan sampel diperlukan suatu teknik pengambilan sampel/ teknik sampling yang tepat agar diperoleh sampel yang representatif atau benar-benar mewakili dan dapat menggambarkan keadaan populasi secara maksimal.

Penelitian ini menggunakan teknik nonprobability sampling dimana tidak memberi peluang/ kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono, 2004, h.60). Berdasarkan pertimbangan tertentu dan menentukan karakteristik sebelumnya yang diketahui terlebih dahulu berdasarkan ciri dan sifat populasinya, maka teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sampling purposif, yaitu subjek sengaja dipilih agar dapat mewakili populasi yang dituju serta untuk kepentingan kontrol eksperimen.

D. Metode Pengumpulan Data

1. Metode Observasi

Tujuannya adalah mengontrol agar eksperimen berjalan sesuai dengan prosedur yang peneliti kehendaki dan mengetahui pengaruh perlakuan terhadap kondisi subjek.


2. Metode Skala

Skala yang digunakan adalah skala kemandirian remaja. Skala kemandirian remaja digunakan untuk mengukur seberapa tinggi tingkat kemandirian remaja.

3. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi dilakukan guna mendapatkan data tambahan untuk keperluan penelitian. Dokumen berupa modul pelatihan dan foto pelaksanaan pelatihan.

E. Desain Eksperimen

Desain eksperimen dalam penelitian ini adalah non-randomized pretest-posttest control group design yang merupakan desain eksperimen yang membagi subjek menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pemilihan subjek dilakukan dengan tidak random, eksperimen dilakukan dengan mengadakan pretest sebelum perlakuan dan posttest sesudah perlakuan kepada kedua kelompok (Latipun, 2005 h. 83).

Kontrol dalam penelitian ini dilakukan dengan:

1. Menggunakan kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan. Penggunaan kelompok kontrol ini dimaksudkan untuk membuktikan adanya pengaruh perlakuan pada kelompok eksperimen dan bukan pada kelompok kontrol.

2. Memilih subjek penelitian yang mempunyai skor kemandirian pada kategori rendah dalam rentang tertentu.

3. Memilih subjek penelitian yang mempunyai persepsi terhadap pola asuh orangtua otoriter atau permisif. Tujuannya untuk mengontrol variabel pola asuh orangtua yang sangat bisa mempengaruhi variabel tergantung (kemandirian remaja).

4. Memisahkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol secara berpasangan (pair matching) untuk mendapatkan dua kelompok subjek yang memiliki karakteristik yang sama. Penggunaan metode ini untuk mengatasi ancaman terhadap validitas internal akibat hilangnya randomisasi subjek.

5. Pembatasan karakteristik subjek sebagai kontrol terhadap subjek penelitian.

F. Metode Analisis Data

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Metode Statistik Parametrik Paired-Sample T Test dan Independent T Test, dengan menggunakan program komputer SPSS versi 13.0. Paired-Sample T Test digunakan untuk menganalisis data pada kelompok eksperimen, yaitu untuk mengetahui perbedaan tingkat kemandirian remaja sebelum dan sesudah eksperimen. Sedangkan, Independent T Test digunakan untuk mengetahui perbedaan pengaruh perlakuan (pelatihan logoanalisis) terhadap kemandirian remaja antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: